Hot Posts

6/recent/ticker-posts

“Dalih Teknis atau Celah Proyek?”



Jembatan Cibayawak Rp2,26 Miliar Disorot, Batu Lokal Dibelah di Lokasi—Ini Fakta Lapangan



SidakCriminalNews | Sumedang — Proyek pembangunan Jembatan Cibayawak di ruas Nangerang/Cinansi–Cikeusi, Kabupaten Sumedang, yang menelan anggaran sebesar Rp2.263.513.079, kini menjadi sorotan tajam setelah muncul dugaan pemanfaatan material batu langsung dari lokasi proyek.


Berdasarkan papan proyek, pekerjaan dilaksanakan oleh CV. Intan Berlian dengan masa kerja 135 hari kalender sejak 14 Agustus hingga 26 Desember 2026.


 Awal Mula Sorotan: Dugaan Penggunaan Batu Lokal


Isu ini mencuat setelah Wartawan STNews melakukan konfirmasi kepada pihak pelaksana proyek terkait dugaan penggunaan batu yang diambil langsung dari lokasi pekerjaan.


Dalam praktik konstruksi, material proyek umumnya harus berasal dari sumber resmi dan sesuai spesifikasi teknis. Namun di lapangan, ditemukan indikasi adanya batu besar yang dibongkar di sekitar titik pekerjaan.


Klarifikasi Pelaksana & Dinas: “Hanya yang Menghalangi Konstruksi”


Dalam percakapan via WhatsApp, pelaksana proyek (Wawan) membantah adanya penggunaan material batu secara bebas.


> “Bukan menggunakan batu, tapi pembongkaran ku masyarakat karena mentok bore pile kahalangan sama batu.”


Hal senada juga disampaikan Kabid Bina Marga PUTR Sumedang, Deni Safarat Sugandhi, ST., MM, yang menegaskan:


 “Pokokna yang menghalangi konstruksi.”


Artinya, pembongkaran batu disebut hanya dilakukan pada titik yang menghambat proses pengeboran (bore pile), bukan untuk eksploitasi material secara keseluruhan.


 Cross Check Lapangan: Fakta Visual Berbicara


Tim STNews melakukan penelusuran langsung ke lokasi pada Jumat (18/09/2026), sehari setelah konfirmasi.


Hasil temuan di lapangan menunjukkan:

- Terdapat bongkahan batu besar di beberapa titik galian proyek

- Beberapa batu tampak sudah dipindahkan dan ditumpuk di sekitar lokasi

- Area galian terlihat cukup luas, tidak hanya satu titik kecil


Terlihat aktivitas pekerjaan menggunakan batu di sekitar aliran sungai (penguat struktur seperti bronjong)


Temuan ini memunculkan pertanyaan lanjutan:

Apakah benar pembongkaran hanya terbatas pada titik bore pile, atau sudah meluas ke area lain?


 Isu Sensitif: Dugaan Transaksi dengan Warga


Dalam percakapan yang beredar, sempat muncul informasi bahwa pihak pelaksana disebut memberikan uang kepada warga sebesar Rp3 juta.


Namun hingga berita ini diturunkan:

- Belum ada klarifikasi resmi tertulis terkait mekanisme tersebut

- Belum jelas apakah itu bentuk kompensasi, kesepakatan sosial, atau hal lain


Hal ini menjadi penting untuk diperjelas guna menghindari multitafsir di tengah masyarakat.


 Analisa Kritis: Antara Teknis dan Transparansi


Secara teknis, hambatan batu dalam pekerjaan bore pile memang bisa terjadi di lapangan. Namun dalam proyek pemerintah, setiap perubahan metode kerja idealnya:

- Didukung dokumen teknis resmi (addendum atau berita acara)

- Tercatat dalam pengawasan konsultan dan dinas terkait

- Tidak membuka ruang pemanfaatan material tanpa prosedur jelas


Jika tidak terdokumentasi dengan baik, kondisi ini berpotensi menimbulkan:

- Penyimpangan spesifikasi

- Ketidakjelasan sumber material

- Risiko audit di kemudian hari


 Penutup: Perlu Transparansi, Bukan Sekadar Klarifikasi


Proyek bernilai miliaran rupiah seperti Jembatan Cibayawak bukan sekadar pekerjaan fisik, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik terhadap pengelolaan anggaran.


STNews menilai, klarifikasi lisan saja belum cukup. Diperlukan:

- Keterbukaan dokumen teknis

- Penjelasan resmi dari pihak dinas

- Pengawasan berkelanjutan hingga proyek selesai


Hingga saat ini, pekerjaan masih berjalan. Namun sorotan publik dipastikan belum akan mereda selama masih ada celah pertanyaan di lapangan.


(Tim Investigasi SidakCriminalNews,akan terus memantau dan membuka ruang konfirmasi bagi semua pihak)

Posting Komentar

0 Komentar