MAJALENGKA, SidakCriminalNews - Komitmen terhadap kelestarian lingkungan kembali ditegaskan oleh Paguyuban Silihwangi Majakuning bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) melalui rangkaian aksi konkret di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Gerakan ini tumbuh dari kesadaran kolektif bahwa menjaga hutan berarti menjaga keberlangsungan hidup masyarakat sekitar.
Di kawasan lereng Gunung Ciremai, upaya pelestarian tidak dijalankan secara sporadis, melainkan terstruktur dan berkesinambungan. Berbagai tantangan terhadap kawasan konservasi, seperti potensi perambahan, kebakaran hutan, hingga gangguan terhadap satwa liar, dijawab dengan kerja lapangan yang nyata dan konsisten.
Kolaborasi erat dibangun bersama KTH Wilayah 1 Kabupaten Kuningan dan Wilayah 2 Kabupaten Majalengka. Sinergi tersebut memperkuat pengelolaan berbasis masyarakat dengan menempatkan kepedulian sebagai fondasi utama, sehingga kerja bersama ini menjadi bukti bahwa pelestarian kawasan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan melalui kebersamaan lintas wilayah.
Rehabilitasi Hutan Berbasis Swadaya
Sebagai bentuk komitmen nyata, paguyuban bersama KTH telah melakukan penanaman sekitar 100.000 bibit pohon di area TNGC. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan unsur Muspika, pelajar, serta komunitas peduli lingkungan.
Tidak hanya berhenti pada proses penanaman, perawatan pascatanam menjadi prioritas utama. Pemantauan rutin, penyulaman bibit yang mati, serta pengawasan pertumbuhan dilakukan secara berkala. Dengan pendekatan tersebut, pelestarian hutan dipahami sebagai tanggung jawab jangka panjang yang memerlukan kesungguhan dan konsistensi.
“Kalau bukan kita yang peduli dan menjaga TNGC, lalu siapa lagi? Tidak semua orang bersedia turun langsung ke lapangan. Ada yang peduli, tetapi hanya sebatas kata-kata tanpa aksi nyata. Kami memilih bergerak dan membuktikan kepedulian itu dengan tindakan,” tegas Ketua Paguyuban, Nandar, Rabu (18/02/2026).
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui aksi konkret yang berkelanjutan.
Penguatan Pengawasan dan Kesadaran Publik
Selain penanaman, kegiatan pengawasan kawasan turut menjadi perhatian utama. Paguyuban dan KTH berupaya mencegah terjadinya pembalakan liar, kebakaran hutan, maupun aktivitas yang mengancam keberlangsungan flora dan fauna di kawasan konservasi.
Edukasi kepada masyarakat juga dilakukan secara berkelanjutan. Warga diajak memahami bahwa hutan memiliki fungsi vital sebagai sumber air, penjaga keseimbangan iklim mikro, serta benteng alami dari potensi bencana ekologis.
Nano, salah seorang warga, menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi gerakan tersebut. “Saya melihat sendiri bagaimana mereka rutin turun ke lapangan untuk menanam, merawat, dan menjaga hutan. Itu bukan pekerjaan mudah, tetapi mereka melakukannya dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Ia pun menegaskan pentingnya aksi nyata dalam menjaga kelestarian kawasan. “Menjaga Gunung Ciremai harus dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan,” tambahnya.
Kolaborasi untuk Masa Depan Lingkungan
Keberadaan Gunung Ciremai memiliki nilai strategis bagi masyarakat Jawa Barat karena kawasan ini menjadi penopang utama keberlanjutan ekosistem di sekitarnya. Terjaganya hutan berarti terpeliharanya cadangan air, kualitas udara, serta stabilitas lingkungan wilayah sekitar.
Melalui kerja kolektif yang berkesinambungan dan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, Paguyuban Silihwangi Majakuning bersama KTH memperlihatkan bahwa kekuatan komunitas mampu menjadi benteng pelindung kawasan konservasi sekaligus penggerak kesadaran ekologis.
Ke depan, diharapkan semakin banyak elemen masyarakat, generasi muda, dan pemangku kebijakan yang tergerak untuk turut serta menjaga TNGC, sebab kelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama demi keberlanjutan generasi mendatang.
(I Afriandi)


1 Komentar
👍
BalasHapus