Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Ketua Komisi III DPRD Majalengka Bongkar Dugaan Kelemahan Konstruksi di Balik Ambruknya Tiga Ruang Kelas SDN Mirat 3, Desak Investigasi Total dan Audit Proyek Sejenis

MAJALENGKA, Sidak Criminal News — Runtuhnya tiga ruang kelas di SDN Mirat 3, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, kini menjadi sorotan publik dan memicu desakan kuat terhadap akuntabilitas pembangunan infrastruktur pendidikan. Insiden ini tidak sekadar peristiwa teknis, melainkan mengangkat pertanyaan mendasar mengenai kualitas konstruksi serta pengawasan proyek yang didanai untuk kepentingan publik.

Komisi III DPRD Kabupaten Majalengka yang melakukan inspeksi langsung ke lokasi menilai, kejadian tersebut mengindikasikan perlunya penelusuran menyeluruh terhadap proses pembangunan. Fokus tidak hanya pada penyebab runtuhnya bangunan, tetapi juga pada kemungkinan adanya pola pengerjaan yang berulang pada proyek lain.

Ketua Komisi III DPRD Majalengka, H. Iing Misbahuddin, menegaskan bahwa pihaknya telah bergerak cepat dengan melakukan koordinasi lintas instansi guna memastikan investigasi berjalan komprehensif.

“Kita sudah lihat kondisinya. Informasi yang kita dapat, pembangunan ini dilakukan sekitar tahun 2021/2022. Kami sudah komunikasi dengan Dinas Pendidikan dan juga ke PUTR agar bangunan ini segera diinvestigasi,” ujar Iing, Senin (5/5/2026).

Ia juga mengingatkan potensi risiko sistemik apabila pola pengerjaan serupa ditemukan di proyek lain.

“Khawatirnya polanya sama, cara pengerjaan sama, khawatirnya terjadi juga hal yang sama. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, kita masih bersyukur. Kita tidak ingin kejadian seperti SDN Andir terulang kembali,” tegasnya.

Temuan awal di lapangan menguatkan indikasi adanya persoalan teknis pada struktur bangunan, terutama pada bagian atap dan sistem penopang beban yang dinilai tidak optimal.

“Kalau genteng standarnya palentong (kokoh/kuat). Nah kalau baja ringan yang kita lihat di sana, jaraknya agak renggang, mungkin ukurannya satu meter atau lebih. Penggunaan kayu sebagai penahan beban baja ringan itu sendiri secara teknis seharusnya menggunakan balok beton, tapi ini pakai kayu,” jelas Iing.

Selain itu, dugaan penggunaan kembali material kayu dari konstruksi lama turut menjadi sorotan dan dinilai perlu diuji secara teknis untuk memastikan kelayakannya.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, DPRD menegaskan bahwa insiden ini tidak boleh dianggap sepele. Investigasi yang transparan dan akuntabel menjadi kunci untuk membuka secara terang penyebab utama kejadian, sekaligus memastikan adanya langkah korektif yang tegas.

Dalam konteks yang lebih luas, DPRD mendorong dilakukannya audit terhadap proyek pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pendidikan lain yang dikerjakan dalam periode yang sama. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan tidak ada potensi kegagalan konstruksi serupa yang luput dari pengawasan.

Dorongan ini sekaligus menjadi sinyal kuat perlunya penguatan sistem pengendalian mutu, agar setiap proyek pembangunan benar-benar memenuhi standar keselamatan dan kualitas yang telah ditetapkan.

Ke depan, sinergi antarinstansi serta pengawasan yang lebih ketat diharapkan mampu menutup celah kelemahan dalam tata kelola pembangunan. Dengan demikian, setiap fasilitas pendidikan yang dibangun tidak hanya berdiri secara fisik, tetapi juga kokoh, aman dan layak digunakan dalam jangka panjang.

(Red)

Posting Komentar

0 Komentar