CIREBON, // SidakCriminalNews.com 27 Agustus 2026 — Tradisi Pajang Jimat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kembali digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon. Prosesi tradisi yang sarat makna sejarah, budaya, dan nilai-nilai keislaman tersebut turut dihadiri Abah Anton Charliyan, selaku Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat, yang hadir mendampingi Sultan Kasepuhan Cirebon, Sultan Lukman, dalam rangkaian acara Pajang Jimat Maulid Nabi 2026.
- Kehadiran Abah Anton Charliyan menjadi bagian dari upaya memperkuat silaturahmi antarpemangku adat sekaligus memberikan dukungan terhadap pelestarian tradisi Nusantara yang memiliki nilai historis dan filosofis bagi kehidupan masyarakat.
Tradisi Pajang Jimat merupakan salah satu warisan budaya Keraton Kasepuhan Cirebon yang secara turun-temurun terus dilestarikan. Tradisi ini diyakini telah berkembang sejak masa Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati pada abad ke-XVI, dan hingga kini tetap menjadi salah satu momentum penting dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan Keraton Kasepuhan.
- Prosesi diawali dengan kegiatan mencuci atau membersihkan benda-benda pusaka keraton. Selain itu, disiapkan pula berbagai benda dan sajian yang memiliki simbol kehidupan, keberkahan, kecukupan serta kesejahteraan, di antaranya nasi tumpeng, nasi uduk, buah-buahan dan berbagai perlengkapan lainnya.
Dari Bangsal Panembahan, rangkaian benda tersebut kemudian diarak menuju Masjid Sang Cipta Rasa. Prosesi berlangsung khidmat dan diiringi lantunan sholawat Nabi serta pembacaan kitab Al-Barzanji yang mengisahkan perjalanan hidup dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
- Arak-arakan Pajang Jimat tersebut terdiri dari tujuh kelompok barisan utama, yang masing-masing dikawal para abdi dalem dengan membawa lilin menyala. Lilin tersebut menjadi simbol penerang kehidupan sekaligus pesan filosofis bahwa manusia harus senantiasa memiliki cahaya kebaikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Prosesi tersebut juga diikuti para pangeran, sesepuh keraton, keluarga keraton hingga para abdi dalem. Setiap tahapan memiliki makna filosofis yang menggambarkan perjalanan serta proses kehidupan manusia sejak dilahirkan ke dunia.
- Makna tersebut antara lain tercermin melalui simbol pemberian nama, makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan kehidupan manusia.
Pesannya jelas, bahwa manusia sejak awal kehidupannya harus dipersiapkan dengan nilai-nilai kesucian, kebaikan, tanggung jawab dan akhlak yang luhur agar kelak mampu menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
- Lebih jauh, peringatan Maulid Nabi melalui tradisi Pajang Jimat tidak semata-mata menjadi ritual budaya. Di dalamnya terkandung pesan agar masyarakat mampu menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah perjalanan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW pun dibacakan sebagai pengingat bahwa misi utama Rasulullah adalah menyempurnakan akhlak manusia.
- "Sultan Lukman: Jangan Hanya Memperingati Kelahiran Nabi"
- Dalam kesempatan tersebut, Sultan Lukman menyampaikan pesan penting kepada seluruh masyarakat yang hadir. Menurutnya, peringatan Maulid Nabi jangan berhenti pada seremoni memperingati kelahiran Rasulullah SAW.
“Jangan hanya sebatas memperingati hari kelahiran Nabi saja, tetapi yang paling penting adalah apakah akhlak mulia Rasulullah tersebut sudah hadir atau belum dalam diri kita masing-masing,” pesan Sultan Lukman.
- Ia mengajak masyarakat melakukan introspeksi terhadap nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW, mulai dari kejujuran, kesabaran, tawadhu atau rendah hati, kepedulian, persaudaraan hingga semangat kebersamaan.
Pesan tersebut menjadi inti dari peringatan Maulid Nabi, bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW harus diwujudkan melalui sikap dan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
- "Abah Anton: Keraton Harus Menjadi Garda Terdepan Pelestarian Adat dan Nilai Kebangsaan"
- Sementara itu, ketika ditemui awak media di lokasi kegiatan, Abah Anton Charliyan menegaskan pentingnya keberadaan keraton sebagai salah satu pusat pelestarian adat, budaya dan nilai sejarah bangsa.
Menurut Abah Anton, Keraton Kasepuhan Cirebon harus tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai adat serta tradisi, terutama tradisi yang mampu mempertemukan nilai agama, kebudayaan dan nasionalisme dalam satu kesatuan.
- “Keraton Kasepuhan hendaknya tetap menjadi garda terdepan dalam pelestarian nilai-nilai adat dan tradisi yang mampu memadukan nilai agama, nilai budaya serta nilai nasionalisme dan cinta tanah air sebagai satu kesatuan yang utuh. Ketiganya tidak boleh dipisahkan satu sama lain,” ujar Abah Anton.
Menurutnya, kekayaan tradisi Nusantara bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan memiliki nilai edukatif yang dapat menjadi pedoman bagi generasi masa kini dan generasi mendatang.
- Tradisi yang diwariskan para leluhur, lanjutnya, harus mampu dimaknai secara substantif sehingga tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga menjadi tuntunan kehidupan.
“Pada akhirnya, nilai-nilai tersebut harus mampu diwujudkan dalam sikap dan perilaku sebagai warga negara yang baik, berakhlak, mencintai budaya, menghormati agama serta memiliki rasa cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.
- "Pajang Jimat Ditutup dengan Botram dan Kebersamaan Masyarakat"
- Setelah seluruh benda pusaka dan perlengkapan Pajang Jimat selesai diarak dalam prosesi menuju Masjid Sang Cipta Rasa, rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan syukuran dan botram, yakni makan bersama para undangan serta masyarakat yang hadir.
Suasana kebersamaan tersebut menjadi penutup yang memperlihatkan kuatnya semangat persaudaraan antara keluarga keraton, para sesepuh, abdi dalem, tamu undangan dan masyarakat.
- Tradisi Pajang Jimat Maulid Nabi 2026 pada akhirnya bukan hanya menjadi bagian dari kalender budaya Keraton Kasepuhan Cirebon, tetapi juga menjadi ruang untuk kembali mengingat pesan Rasulullah SAW tentang pentingnya akhlak, persaudaraan, kepedulian dan kebersamaan.
"Adat tetap lestari, agama menjadi pedoman, budaya menjadi identitas, dan nasionalisme menjadi perekat persatuan bangsa"
Jurnalis: Hidayat
Editor: Anto Prayoga




0 Komentar